SELALU CERIA..................
SHOLEH,JUJUR,CERDAS,KREATIF DAN BERAKHLAK ISLAMI
SHOLEH,JUJUR,CERDAS,KREATIF DAN BERAKHLAK ISLAMI
PROFIL
- INFO (5)
- KEGIATAN SISWA (2)
Selasa, 03 Juli 2012
“Perlu, Pembentukan Karakter Guru dengan Paradigma Islam”
Hidayatullah.com--Saat ini, para guru harus belajar lagi memahami konsep ilmu secara benar. Sebab, jika salah sedikit saja, akan berakibat fatal terhadap pendidikan. Karena itu, perlu dibuat penyamaan paradigma ilmu terhadap guru. Wawasan paradigma Islam ini untuk membentuk karakter guru beradab.
Demikian ditegaskan Adnin Armas, M.A, Direktur Eksekutif INSISTS pada acara Training of Trainer (ToT) Guru Madrasah Ibtida’iyah Terpadu al-Raihan Lawang di Singosari Lawang pada Senin kemarin (02/07/2012).
“Dalam mengajar harus hati-hati. Seorang guru memiliki tanggung jawab ilmu yang besar”. ”Ilmu yang ada sekarang ini bermasalah karena kemasukan Barat misalnya asumsi, metodenya dan paradigmanya”, tegasnya.
Menurut Andnin, yang pertama-tama itu membuka wawasan para guru tentang perlunya mengoreksi ilmu. Hal itu dapat dimulai dengan pelatihan worldview Islam.
Menurut Adnin, dalam pendidikan Islam terpadu ada empat hal yang harus dipahami.
Pertama, konsep Islam. Kedua konsep ilmu dan pendidikan. Ketiga, mengetahui respon sarjana-sarjana Muslim terhadap tantangan ilmu. Keempat, mengambil pelajar sejarah gemilangnya cendekiawan Muslim terdahulu.
”Dan yang juga penting sekarang, mengoreksi buku teks pelajaran,” tandas kandidat doktor ISTAC Malaysia ini.
Adnin juga menjelaskan, para guru harus sepakat tentang apa itu Islam. Sebab sekarang banyak orang yang belajar agama tapi mengacaukan Islam menjadi beragama tipologi. Islamisasi ilmu pasti gagal jika tidak paham konsep Islam.
”Praktik pendidikan Islam itu harus berpijak kepada kosep wahyu. Harusnya saintis-saintis itu makin belajar makin dekat dengan Allah. Kenapa sekarang tidak? Karena sains tidak berdasar wahyu dan tidak dipelajari untuk mendekatkan diri kepada Allah,” tambahnya.
Oleh sebab itu, tambah Adnin, sekolah Islam harusnya mengutamakan bahasa Arab, bukan bahasa asing lainnya.
Yang menarik, pada pelatihan yang diadakan di Hotel Solaris Singosari Malang itu, Adnin Armas memberikan materi-materi ’berat’ untuk para guru madrasah.
Materi-materi seperti kesalahan filsafat dan epistemologi Barat, Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer dan konsep-konsep kunci pandangan-alam Islam diajarkan.
Konsep-konsep Islam, konsep Tuhan, konsep ilmu, konsep manusia, konsep wahyu dan kekeliruan hermenetika dibedah Adnin dengan analisis worldview Islam.
Banyak orang belajar Islam, akan tetapi jadi sarjana yang menentang Allah. Ini salah ilmunya. Saat ini memang, jelas Adnin, ilmu dijadikan sebagai alat untuk mengajak umat Islam jauh dari agama. Ada upaya merusak Islam dengan pengeliruan konsep ilmu.
Oleh sebab itu, pandangan-alam Islam merupakan landasan memahami konsep-konsep Islam. Pandangan alam Islam itu merupakan satu kesatuan konsep.
Dalam mengislamkan ilmu, ada tiga proses yang harus dilakukan. Yaitu, penolakan terhadap ilmu sekular. Konsep-konsep ilmu yang sekular harus dibersihkan. Ada pula teori Barat yang bisa kita terima.
”Tidak semuanya kita tolak”, tambahnya. Oleh sebab itu langkah ketiga itu yang penting, yaitu modifikasi atau adaptasi.
Adnin mengaku bahwa materi-materi tersebut merupakan mata kuliah untuk pasca sarjana. Tapi baginya ini perlu bagi guru madrasah untuk membuka pemikiran tentang tantangan ilmu saat ini.
Meski berat, tambahnya, mau tidak mau kita harus mengetahuinya. Inilah tantanganannya.
”Bicara pendidikan. Ya harus bicara ilmu beserta tantangannya. Sebab, ilmu itu ada yang benar ada yang tidak benar. Karena ilmu yang tidak benar inilah kita sedang menghadapi problem pendidikan yang serius,” ujarnya.*/Kholili
Rabu, 06 Juni 2012
Pentingnya Pengembangan Kecerdasan Integratif
Alasan tentang pentingnya pengembangan kecerdasan integratif, yaitu kecerdasan emosi, intelektual dan spiritual.
Pertama, pendidikan modern kita selama ini hasilnya sangat menekankan dan mengunggulkan kualitas intelektual atau kepandaian yang dilambangkan dengan IQ. Pendidikan hanya mengedepankan kecerdasan otak dengan sejumlah materi pelajaran yang harus dikuasai dan dipahami oleh peserta didik, dan profil hasil belajarnya hanya diukur dari nilai-nilai akademik. Dengan demikian, anak dinyatakan hebat dan berhasil apabila mereka mendapatkan nilai rata-rata 9 atau memiliki nilai danem yang tinggi. Hal tersebut kenyataannya kurang berhasil atau malahan telah gagal dalam membentuk dan mengembangkan seseorang menjadi manusia-manusia yang bermartabat dan bermanfaat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, bukan justru sebaliknya. Syafi`i Ma`arif menulis bahwa di Barat, karena pendidikan hanya bertahtakan otak manusia, kurang menghiraukan keadilan dan nilai-nilai ilahiyah. Sehingga hasilnya adalah sebuah generasi yang Split of personality, di mana tidak terjadi integrasi antara otak dan hati.5 Di Amerika banyak sekali dijumpai pelajar yang pandai dan intelektualitasnya tinggi, akan tetapi sering dan mudah putus asa dan bertindak brutal. Demikian pula di Indonesia banyak dijumpai para pelajar yang sering tawuran dan bertindak kriminal padahal mereka banyak yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi.
Kedua, berdasarkan pandangan-pandangan dan teori-teori pendidikan mutakhir selalu menyerukan dan menyarankan agar pendidikan tidak hanya mencakup pengembangan kecerdasan intelektual atau IQ saja, tetapi juga EQ (kecerdasan emosi) dan SQ (kecerdasan spiritual). Sudah bukan zamannya lagi pendidikan hanya mengagung-agungkan dan memuja-muja kecerdasan intelektual sementara pengembangan kecerdasan-kecerdasan yang lain diabaikan. Daniel Goleman, seorang Psikolog Harvard University pada pertengahan tahun 1990-an menulis sebuah hasil penelitian yang menarik. Ia menyatakan bahwa tingkat kecerdasan intelegensi yang tinggi tidak menjamin gengsi, kesejahteraan, kebahagiaan dan kesuksesan hidup.6 Ada kecerdasan lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu kecerdasan emosional. Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kecerdasan seseorang dalam kehidupan hanya kira-kira 20 % ditentukan oleh kecerdasan intelegensia/IQ, sedangkan 80 % ditentukan oleh faktor-faktor lain.7 Penemuan baru tentang kecerdasan emosional akan terus berkembang pada abad 21, dan akan berimplikasi besar bagi tiap segi kehidupan terutama pada pendidikan.
Ketiga, telah menjadi tugas dunia pendidikan di mana pendidikan harus berpusat pada pengembangan pribadi dan intelektual, karena hal tersebut merupakan salah satu hak asasi manusia. Dalam Konvensi Hak Internasional Ekonomi, Sosial, dan Budaya, pasal 13, ayat 1 dinyatakan bahwa negara-negara peserta konvensi ini mengakui hak-hak setiap orang atas pendidikan. Di antaranya adalah pendidikan harus diarahkan pada perkembangan seutuhnya dari kepribadian manusia dan kesadaran akan harga dirinya dan memperkuat rasa hormat terhadap hak-hak asasi manusia dan kebebasan dasar. Pendidikan harus memungkinkan semua orang untuk berpartisipasi secara efektif dalam suatu masyarakat yang bebas, meningkatkan rasa pengertian, toleransi serta persahabatan antar semua bangsa, ras dan agama.
Langganan:
Postingan (Atom)
